Lycopodium

Posted: April 30, 2011 in Uncategorized

Licopodium

  1. 1.      Klasifikasi

Kingdom : Plantae

       Divisi        : Pterydophyta

               Class    : Lycopodinae

                      Ordo        :Lycopodiales

                               Famili :            Licopodiaceae

                                       Genus :Lycopodium  (Mader,2001:565)

Lycopodinae di dalam zaman karbon telah berkembang lebih luas dari pada pada zaman sekarang, bahkan di zaman itu ada yang telah berkembang menjadi tumbuhan berbiji, yaitu Lepidospermae. Mungkin karrena tidak sempurnanya alat-alat penyerap dan pengangkut air, maka tumbuhan tumbuhan yang telah berupa pohon itu kemidian punah menjelang akhir akhir zaman Palaezoikum, karena iklim di bumi kita ini bertambah kering.Kelas Lycopodinae terbagi atas 4 bangsa, yakni bangsa Lycopodiales, bangsa Selaginellales, bangsa Lepidodendrales, dan bangsa Isoetales. Namun disini hanya akan dibahas 2 bangsa dari kelas Lycopodinae, yakni bangsa Lycopodiales (paku kawat) dan bangsa Selaginellales (paku rane). Hal tersebut dikarenakan hanya spesies dari kedua bengsa itulah yang masih aa hingga saat ini. Bangsa ini terdiri lebih atas 200 jenis tumbuhan yang hampir semua tergolong dalam suku Lycopodiaceae dari marga Lycoodium (graham,1993:539)

  1. Morfologi Licopodium

Ciri morfology Licopodium secara umum adalah sebagai berikut (Graham, 1993:330) :

1)      Akar

  • Akar bercabang menggarpu, terletak di sepanjang bagian bawah dari rimpang.

2)      Batang

  • Batang berupa rimpang
  • Tumbuh tegak atau berbaring dengan cabang-cabang menjulang ke atas
  • Cabang-cabang tertutup oleh daun
  • Memilki bekas pengangkut yang masih sederhana

3)      Daun

  • Berukuran kecil (isofil)
  • Berbentuk garis atau jarum dan permukaanya berjarum
  • Tidak bertangkai (bertulaang satu) atau mikrofil tak bercabang
  • Tersusun secara spiral ataua karangan yang padat (tidak teratur)
  • Panjangnya hanya 2-10 mm, ada beberapa yang dapat mencapai 2-3 cm

3.      Sistem reproduksi

Lycopodium termasuk ke dalam puku homospora. Ciri-ciri spora Lycopodium  adalah (raven,1998:230):

  • Sporofil terbentuk pada bagian atas ( strobilus), berbentuk segi tiga sama sisi
  • Mempumyai sporangium yang agak pipih, berbentuk ginjal
  • Sporangium terletak pada sisi atas daun dekat dengan pangkalnya
  • Dinding sporangium terdiri atas beberapa lapis, yakni lapisan dalam terdapat sel-sel tapetum, yang karena isinya habis terpakai pada pembentukan spora lalu berkeriput
  • Spora tersususun atas tetradehingga waktu masak
  • Eksosporiumnya mempnyai rigi-rigi penebalan yang berbentuk jala
  • Spora bersifat isospora
  • Spora berkecambah dalam waktu 6 atau 7 tahun dan menghasilkan badan yang terdiri atas 5 sel yang mendapat makanan   dari cadangan di dalam spora

4.      Siklus hidup

Spora yang telah berkecambah dan menghasilkan badan yang terdiri atas 5 sel akan mengalami waktu istirahat. Setelah itu jika dalam sel-selnya yang sebelah bawah dimasuki hifa cendawan yang berkelakuan sebagai mikoriza maka akan terbentuklah protalium ( Backer,1939:118).

Protalium hdup di dalam tanah, berbentuk seperti umbi kecil, keputih-putihan dan bersifat saprofit. Bentuk protalium bermacam-macam, mempunyai rizoid-rizoid dan di samping itu di   dalam lapissan sel-sel di periferi terdapat cendawan yang seperti mikiriza memainkan peranan penting dalam soal penyerapan zat-zat makanan. Baru sesudah 12-15 tahun, alat-alat kelaminnya menjadi masak, sehingga umur protalium itu dapat sampai 20 tahun. Jika protelium muncul di atas tanah, lalu membentuk kloroplas dan warnanya menjadi hijau (Rosenburgh,1908:112).

Protalium itu berumah satu, alat-alat kelaminnya terdapat padda bagian apikal. Anteridium terbenam dalam jaringan protalium dan terdiri atas banyak sel. Tiap sel anteridium (selain dindingnya) menghasilkan spermatozoid berbentuk jorong, masing-masing mempunyai bulu cambuk. Arkegonium mempunyai banyak sel-sel saluran leher yang sering tereduksi sampai hanya tinggal saut saja. Sel dindingnya yang paling atas pada waktu masaknya arkegonium lalu di lepas (Hartini.2005:5).

Setelah dihasilkan sel spermatozoa dan sel telur dari mmasing-masing alat kelamin maka akan terjadi fertilisasi sehingg terbentuklah zigot. Zigogt  mula-mula dengan satu dinding dasar yang melintang membelah menjaadi dua sel. Yang bawah mula-mula membagi diri menjadi 4 kuadran kemudian menjadi oktan dan selanjutnya menjadi embrio, sedang sel-sel yang menghadap leher arkegonium menjadi pendukung embro atau suspensor. Jadi embrio itu tidak menghadap ke arah leher arkegonium. Letak embrio yang demikian itu disebut endoskopik. Suspensor mendesak embrio ke dalam jaringan protalium. Untuk dapa keluar dari jaringan protalium itu, embrio lalu membelok ke atas, dan bagian yang cembung pada belokan itu lalu berfungsi sebagai haustorium. Daun yang pertama terbentuk berupa suatu sisik dan terdapat pada ujung tunas. Kemudian pada bagian batang yang berdekatan dengan suspensor terbentuk akar-akar ke samping. Pertumbuhan berjalan terus karena kegiatan titik tumbuh yang tidak mempunyai sel ujung sebagai pemulanya(Rosenburgh,1908:123).

  1. Kunci identifikasi

1.kerucut tidak berbeda;sporophylls tidak lebih kecil daripada daun steril dan bergerigi di marjin                                                                                       1.L. seratum

2. seluruh daun pada marjin

2. batang kurang dari 3 mm; daun adpressed subpatent

4. batang berdiameter 2-3 mm; daun sekitar 1,3 mm luas; vena tidak jelas

2.L. carinatum

4. batang diameter 1-1,5 mm; daun 2-5 luas; vena lebih atau kurang jelas di bawah

3.L. hamiltonii

3. batang lebih dari 5 mm, daun paten dan squarrose                     4.L. squarrosum

1. kerucut yang berbeda; sporophylls jauh lebih kecil daripada tropophyll

5. kerucut tegak

6.tanaman epifit,tanaman gantung

7. daun bulat telur subdeltoid linier, acuminate untuk menunjuk puncak Linier

8.leaves, untuk 1,5 luas                                                                            5. L. piscium

8. daun lonjong-bulat telur lanset untuk subdeltoid 1-1,15 cm, lebar 4-7 mm

6.L. phlegmaria

7. daun bulat telur sampai suborbicular, bulat untuk setiap monderately akut di puncak                                                    7.L.nummularifolium

6. tanaman terestial; batang merambat, bantalan tegak cabang batang                                                                                             8.L.clavatum

5. concs gantung1. kerucut tidak berbeda; sporophylls tidak lebih kecil daripadadaun steril

9. L. cernuum

( Tagawa dan iwatsuki.1979:9)

  1. Deskripsi spesies lycopodium

a. Licopodium serratum

 

Tumbuhan ini banyak di temukan di daerah hutan tropis dan sub tropis. Lycopodium serratum ini tumbuh menempel di pohon (epifit), namun ada pula yang hidup bebas di tanah, pada bebatuan, dan tebing sungai. Batang naik atau agak menjalar di dasar, dengan tegak bercabang cabang dicotomously beberapa kali bagian atas beberapa kali bantalan gemmae dekat apex.leaves eliptic untuk sempit, acuminate di puncak, petiolate, irregullarly bergerigi di urat margin yang berbeda, dibesarkan di atas; chartaceous twexture tipis, dalam hijau. sporophylls lanset, kecil, 3-5 mm panjang, konstan pada bagian atas tanaman, tetapi tidak membentuk kerucut yang berbeda (Hartini.2005:6).

b. Licopodium squarrosum

Jenis ini termasuk dalam suku Lycopodiaceae.Mempunyai sinonim Huperzia squarrosa (G. Forster)Trevisan dan Phlegmaria squarrosus (G. Forster) Löve &Löve. Biasa disebut dengan rock tassel fern, water tassel fern atau ikur-ikur biang. Tumbuhan ini merupakan jenis epifit, berukuran sedang, berumpun, menjuntai atau tegak.Batang panjang mencapai 1,5 m, lebar 1,5-2,5 cm, selalu hijau, beberapa kali bercabang dan percabangannya khasyaitu setiap cabang bercabang dua lagi. Daun steril bundar telur menyempit sampai memanjang menggaris, panjang 1,5-2 cm, mirip kawat tetapi tidak kaku, tersusun rapat, tersebar kecuali di bagian ujung batang. Daun fertil mirip dengan daun steril. Strobili terdapat di ujung cabang, tidak bercabang, panjang mencapai 20 cm. Strobili ini mudah dibedakan dengan batang yang berdaun karena ukurannya lebih kecil. L. squarrosum biasanya tumbuh epifit di pohon-pohon besar dan menempel pada humus yang tebal. Jenis ini umumnya terdapat di tempat yang agak ternaung sampai terbuka, pada ketinggian 1.440 m dpl. Jenis ini tersebar di Afrika, Asia, New Guinea, Australia, dan Polinesia. Perawakannya yang menawan menjadikan jenis ini berpotensi sebagai tanaman hias. Masyarakat Karo di Sumatera Utara memanfaatkannya untuk angin-angin (mengusir setan atau membebaskan diri dari pengaruhsantet) (Jones, 1987).

c. Licopedium cernuum L.

Tumbuhan  paku ini hidup di tanah. Jenis ini di kenal dengan nama paku kawat karena batangnya yang kecil menjalar, kaku seperti kawat. Batang tersebut bercabang-cabang tak beraturan. Daunnya kecil dan tumbuh rapat menutupi batang. Banyak dimanfaatkan sebagai rangkaian bunga.Tidak halnya paku-pakuan pada umumnya, paku kawat mempunyai daun yang subur yng tersusun dalam bentuk bulir yang disebut strobilii. Daun strobilii tumbuh pada akhir percabangan. Strobil ini letaknya tegak dan bentuknya seperti bumbung (Mader.2001:565).

Akhir-akhir ini paku kawat telah mulai di budidayakan   karena kegunaanya sebagai tanaman hias. Disamping itu dapat pula dipakai sebagai obat batuk dan obat sesak nafas dengan cara meminum air rebusannya. Selain itu, abu paku kawat untuk menyembuhkan kulit yang terserang bisul, dengan cara mencampurnya dengan cuka.dapat pula dimanfaatkan sebagai pengisi bantal atau pengganti bantal (Graham. 1993:201).

Paku kawat ini mudah dijumpai karena tumbuhan ini banyak terdapat di daerah tertutup atau terbuka. Bahkan, tumbuhan ini masih bisa tumbuh di daerah kering dan di tanah yang kurang subur (Mader.2001:565)..

d.      Lycopodium nummularifium L

Lycopodium nummularifium jenis tumbuhan paku perrenial dan hidup sebagai epifit di bawah dan melekat pada batang pohon-pohon pada habitat aslinya, yaitu hutan tropis. Dibandingkan dengan kerabat  Lycopodium lain yang tumbuh merumpun (menggerombol), spesies ini cenderung bertipikal tumbuh menjalar, memanjang atau menggantung. Batang berbentuk bulat, kecil, keras dan memanjang seperti kawat (wiry stem). Dua cabang dikotomi (dichotomous branches) terbentuk pada ujung batang/cabang sebelumnya yang selanjutnya tumbuh menjadi cabang-cabang baru. Cabang-cabang kemudian dapat tumbuh hingga mencapai tanah dan menjalar membentuk system perakaran baru (rhizoma). Rhizoma berakar adventif merupakan bentuk modifikasi batang yang berfungsi selain sebagai alat trasport air dan nutrient untuk proses photosynthesis, juga sebagai alat perekat tanaman pada tempat tumbuhnya(Mader.2001:567).  .

Tergantung pada tempat tumbuhnya, rizhoma berakar adventif dapat menjalar di atas maupun di bawah media tempat tumbuhnya hingga mencapai kedalaman 5 – 15 cm. Rizhoma-rhizoma ini pun berpotensi untuk membentuk tunas baru yang kemudian dapat tumbuh menjadi tanaman baru (vegetative reproduction). Daun kecil (microphyll) berwarna hijau, berbentuk bulat hingga oval lonjong/lanceolate (scale-like leaves), pipih dengan satu tulang daun yang berada di tengah helaian. Daun melekat pada segmen-segmen batang yang mirip buku dengan susunan duduk daun berpasangan dengan sedikit alternasi (opposite, slightly alternate). Sudut duduk daun berjarak seragam pada batang. Susunan daun-daun pada batang tanaman overlap linier dengan daun yang lain pada buku yang berikutnya, sehingga membentuk suatu rangkaian radial mirip mata rantai dengan bidang datar yang rata(Holtum,1996:330).

Tanaman ini diperkirakan berasal dari Asia Tenggara beriklim tropis, dengan pusat endemik di sekitar semenanjung Melayu, di Malaysia bagian timur, Indonesia di sekitar Kalimantan hingga Filipina bagian selatan, Irian dan Papua nugini. Beberapa penelitian eskplorasi akhir-akhir ini mengindikasikan bahwa Lycopodium nummularifolium juga diketemukan tumbuh secara alami di hutan-hutan sebelah timur Papua nugini hingga bagian utara Australia. Penyebaran secara alami diperkirakan dengan menggunakan spora yang ringan dan dapat terbang terbawa oleh angin serta dapat bertahan lama hingga mencapai tempat tumbuh yang kondusif untuk berkecambah.Kerabat-kerabatnya dalam satu genus, mempunyai area dispersal yang luas hingga ke daratan Amerika yang beriklim tropis(Hartini.2005:7).

Dahulu spora Lycopodium yang dikeringkan sering digunakan pada acara teaterikal. Spora kering ini digunakan untuk memberikan efek seperti kobaran api. Spora dapat terbakar dengan cepat dan terang, tetapi dengan panas yang rendah dan aman. Selain spora, bentuk segar tanaman baik berupa untaian batang potong atau tanaman dalam pot digunakan sebagai tanaman hias, sebagai filler atau suplemen dalam rangkaian bunga atau tanaman hidup dalam pot maupun pada taman. Beberapa spesies Lycopodium juga digunakan salah satu bahan pembuat pembungkus pil/kapsul obat-obatan hingga saat ini. Untuk bahan obat-obatan spesies ini dijual dalam bentuk tepung. Spesies-spesies tertentu oleh suku Aborigin juga digunakan sebagai bahan obat-obatan untuk penyakit (homeophatic). Pada pengobatan modern spesies Lycopodium masih digunakan digunakan untuk homeophatic. Homeophatic merupakan suatu sistem pengobatan yang aman dan efektif serta tanapa efek samaping. Cara ini membantu mendorong tubuh untuk melakukan penyembuhan baik secara fisik, mental maupun emosional Kandungan bahan/sifat fisik/kimia bagian tanamanNuansa terang karena daya terbakar spora yang cepat dengan suhu rendah pada efek teateritikal diduga karena (Raven, 1998:390).

Untuk reproduksi seksual, tanaman ini membentuk organ yang disebut strobilus yang biasanya tumbuh pada dasar duduk daun (microphyll axils). Sporangium sebagai sebagai tempat sel induk spora terdapat pada strobilus, berbentuk seperti ginjal. Pada fase gametofit, spora akan membentuk organ-organ gametangia, seperti arkegonium dan anteridium sebagai penghasil gamet-gamet jantan dan betina(Rosenburgh,1908:123).

e. Licopodium phlegmaria L

Jenis paku ini sangat tahan kekeringan. Dari namanya dapat diketahui bahwa masih termasuk satu marga dengan kumpai. Seperti jenis-jenis marga Lycopodium pada umumnya, kumpai pure tumbuh menumpang. Batangnya tumbuh bergantung dan percabangannya khas yaitu setiap cabang bercabang lagi menjadi dua. kadang- kadang tumbuhan ini dapat mencapai panjang 0.9 m. Jenis ini mudah di bedaka dari jenis lainnya  dalam marga lycopedium Karen adaunnya kasar, berbentuk bulat dengan ujungnya yang runcing(Raven, 1998:394)..

Berbeda dengan kumpai, strobilii kumpai pure membentuk percabangan yang khas seperti batangnya. Panjang strobilii tersebut mencapai 20 cm. dapat dibedakan dengan batang yang berdaun dan ukurannya yang lebih kecil sporofilnya pendek dan bentuknya menyirip. Pada tumbuhan ini mengandung saponin yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan mecuci rambut serta dapat digunakan untuk hiasan kebun(Hartini.2005:7).

f.        Lycopodium carinatum


Batang pendoulus panjangnya dapat mencapai lebih dari 50 cm. kadang- kadang memiliki diameter 2-3 mm. Daunnya pendek berbentuk lancet Subulate di pucuk, penyempitan ke arah dasar, sesil sampai 1,3 panjang, lebar 1,3 mm, seluruh; vena tidak jelas, tekstur chartaceous. Sporophylls sedikit berbeda dari tropophills, oblong subdeltoid, sampai 5 mm, 1,5 luas, ditempatkan hanya pada bagian apikal atau kadang ke bawah ke bagian tengah, tidak membentuk kerucut yang berbeda. Ephypitic pada batang pohon berlumut di hutan evergen padat sampai dengan 900 m ( Tagawa & Iwats, 1979:8).

g.      Licopodium hamiltonii  

Batang biasanya gantung, 20-50 cm, bercabang dikotomis beberapa kali, 1-1,5 mm diameter pangkalan dekat. Batang biasanya gantung, 20-50 cm, bercabang dikotomis beberapa kali, 1-1,5 mm diameter pangkalan dekat. Batang biasanya gantung, 20-50 cm, bercabang dikotomis beberapa kali, 1-1,5 mm diameter dasar dekat. naik daun, jarang subpatent, lanset, melainkan variabel dalam bentuk dan ukuran, akut untuk berkumpul di pucuk, penyempitan terhadap sessile atau setiap dasar segera stalkeed, mereka pada bagian tengah atau lebih rendah yang terbesar, 1-1,5 cm panjang, 2-5 mm luas, seluruh; vena lebih atau kurang jelas di bawah; tekstur lembut chartaccous untuk lebih tebal, hijau ke hijau kekuningan. biasanya lebih kecil daripada tropophylls sporophills, untuk 7 mm, 1.5mm luas, yang konstan yang berkumpul di bagian apikal, tidak membentuk kerucut yang berbeda, fertille batang biasanya sekitar 1 / 3 di ketebalan yang sterille yang lain( Tagawa & Iwats, 1979:9)

h.      Licopodium piscium

Mirip dengan L. hamiltonii tetapi dapat dibedakan dari: daun sangat sempit, linier, paling 1,5 mm luas, margin seringkali rumit; ramping porsi subur, sekitar 1 mm, sporophylls jauh lebih kecil daripada tropophills( Tagawa & Iwats, 1979:10).

i.        Licopodium clavatum

 Batang utama menjalar, bawah tanah, bercabang tidak teratur, bantalan daun sempit jarang berdiameter 3-4 mm; udara naik ke batang tegak, percabangan dikotomus beberapa kali, bantalan denses daun 0,5 -1 cm diameter termasuk daun. Daun sebenarnya, melengkung di bagian atas, linier-lanceoplate, berkumpul di pucuk berakhir di setae membranosus panjang canucosus, 4-6 mm panjang, 0.5-1 mm luas, seluruh, sessile; urat nyaris tidak terlihat; tekstur seperti kulit, hijau atau hijau kekuningan. kerucut tegak tangkai 7-15 cm, dengan daun linier jarang tampak lurus, menghasilkan beberapa kerucut di setiap pucuk dengan tangkai pendek; kerucut silinder, tegak, 3-8 cm panjang, 4-5 mm; sporophylls lonjong bulat telur, berkumpul di pucuk dengan membran setaceous, tepi transparan, membran, dentate, sekitar 2,5 mm, 1,5 mm luas( Tagawa & Iwats, 1979:11).

5. Manfaat

Dapat diketahui berbagai manfaat dari genus lycopodium ini. Sebagian telah dijelaskan pda masing –masing spesies akan tetapi secra umum lycopodium banyak dimanfaatkan sebagai hiasan dikebun dan karangan bunga.

Dahulu spora Lycopodium yang dikeringkan sering digunakan pada acara teaterikal. Spora kering ini digunakan untuk memberikan efek seperti kobaran api. Spora dapat terbakar dengan cepat dan terang, tetapi dengan panas yang rendah dan aman. Selain spora, bentuk segar tanaman baik berupa untaian batang potong atau tanaman dalam pot digunakan sebagai tanaman hias, sebagai filler atau suplemen dalam rangkaian bunga atau tanaman hidup dalam pot maupun pada taman. Beberapa spesies Lycopodium juga digunakan salah satu bahan pembuat pembungkus pil/kapsul obat-obatan hingga saat ini. Untuk bahan obat-obatan spesies ini dijual dalam bentuk tepung. Spesies-spesies tertentu oleh suku Aborigin juga digunakan sebagai bahan obat-obatan untuk penyakit (homeophatic). Pada pengobatan modern spesies Lycopodium masih digunakan digunakan untuk homeophatic. Homeophatic merupakan suatu sistem pengobatan yang aman dan efektif serta tanapa efek samaping. Cara ini membantu mendorong tubuh untuk melakukan penyembuhan baik secara fisik, mental maupun emosional Kandungan bahan/sifat fisik/kimia bagian tanamanNuansa terang karena daya terbakar spora yang cepat dengan suhu rendah pada efek teateritikal diduga karena (Raven, 1998:390).

L. Cernuum, yang di Jawa Barat banyak digunakan dalam pembuatan karangan bunga L. Clavatum, yang sporanya dikumpulkansebagai serbuk likopodium (pulvis licopodii) yang dipergunakan sebagai pembalut pil agar tidak lengket satu sama lain. Juga dipergunakan dalampercobaan Kundt untuk mengukur panjang gelombang suara (Sastrapradja.1985:30)

Daftar pustaka

Backer, C.A. and O. Posthumus. 1939. Varenflora Voor Java. Met 1. New York. Wort publishers

Graham,l.e. 1993. Origin of land plants. New York: Willey

Hartini, S. 2005. Laporan Eksplorasi Flora di Cagar Alam Sago Malintang

Sumatera Barat. Bogor: Pusat Konservasi Tumbuhan-Kebun Raya Bogor, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Holttum, R.E. 1966. A Revised Flora of Malaya. Vol.II. Ferns of Malaya.

Singapore. Authority Government Printing Office.

Holttum, R.E. 1972. Cyatheaceae in Flora Malesiana. Vol. 6, Serie II.

Groningen: Wolters-Noordhoff Publishing Series II – Ferns and Fern Allies. Leiden: Rijksherbarium.

Jones, D.L.1987. Encyclopaedia of Ferns. London: British Museum of Natural      History

Mader,s. 2001.Biology. New York. Mc graw hills companies

Raven, p.h. 1998. Biology of plants 6 th edition.new York : Worth publishers

Rosenburgh, C.R.W.K. van A. 1908. Malayan Ferns. Handbook to the Determination of the Ferns of the Malayan Islands. Batavia: The Department of Agriculture Netherlands India.

Sastrapradja, S. dan J.J. Afriastini. 1985. Kerabat Paku. Bogor: Lembaga

Biologi Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Sastrapradja, S., J.J. Afriastini, D. Darnaedi, dan E.A. Widjaja.1978. Jenis

Paku Indonesia. Bogor: Lembaga Biologi Nasional, Lembaga Ilmu

Pengetahuan Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s